MINDER YANG AKUT
Penulis: Dede Habibillah
Aku tergugu di sudut mushalla As-Syifa. Mengurai airmata dihadapan sang pencipta airmata. Aku selalu diteror rasa malu dan minder yang akut. Kini hatiku sunyi, gelap dan terluka. Tak ada yang salah. Tiada sesiapa yang bisa kujadikan kambing hitam sebagai dalang si pembuat masalah.
--==oo0)(0oo==--
Aneh, beberapa tahun silam aku bukanlah yang seperti ini. Dulu, aku adalah orang yang paling PD. Tak pernah perduli orang mau bilang apa. Apa yang menjadi tekad dan keyakinanku maka akan kulakukan dengan azzam yang tinggi. Kemanakah perginya rasa percaya diriku?
Aku berjalan menuju kampus dengan pikiran yang silang sengkarut. Diatas, awan gemawan berarak-arakan tak lagi terasa indah. Pandangan ini tak mampu mendongak keatas. Masalah yang begitu berat membuat kepala ini sulit mendongak. Sebaliknya, mata dan kepala ini memaku bumi hingga ke inti yang terdalam.
“Jadi mahasiswa kedokteran itu penampilannya mesti meyakinkan, jangan kayak mahasiswa kehutanan” kata-kata itu terngiang ditelingaku. Bang yahya mengomentari penampilanku suatu kali.
“Maksud bang Yahya penampilanku ini tidak rapi ya?”
“Aku enggak bilang begitu kan?” selahnya.
Aku tak mau mendesak bang Yahya untuk mengakui penampilanku yang buruk. Tapi muka ini terasa panas mendengarnya. Harus bagaimana lagi kubuat diri ini. Baju kemejaku hanya ada tiga buah. Itupun sudah terlalu lama kugunakan. Ada yang di ujung lengannya sobek seperti gigitan tikus, kemeja inilah yang sekarang kugunakan.
Aku bersyukur masih ada yang mau mengingatkan. Kuucapkan terimakasih pada Bang Yahya dan berlalu meninggalkannya.
Teringat cerita temanku yang sama-sama mahasiswa baru di fakultas kedokteran. Beberapa hari yang lalu, dia kena semprot Kepala Bagian Kemahasiswaan saat mengurus pengembalian surat-surat pendaftaran. Ia disindir-sindir sebagai mahasiswa kehutanan seperti aku. Terang aja sekembalinya ia dari ruangan itu ia mencak-mencak nggak karuan.
Aku dan temanku itu adalah manusia yang bernasib sama. Sama-sama satu kampung. Sama-sama boleh dikata kurang mampu. Sama-sama masuk fakultas kedokteran di universitas yang sama melalui jalur beasiswa. Disatu sisi kami merasa bersyukur bisa masuk fakultas yang paling diminati diseluruh tanah air ini. Terbukti saat tes ujian masuk kemarin fakultas kedokteranlah yang menduduki rangking pertama terbanyak pesertanya. Di sisi lain kami berdua adalah mahasiswa kedokteran yang kampungan, tak pandai bergaul dan selalu tersiksa mengikuti gaya hidup mereka. Lengkap betullah segala kekurangan kami.
Suatu hari di ruangan kuliah
Tulilit…tulilit…tulilit…
Alamak! aku lupa mematikan nada dering hpku. Orang-orang melihatku semua. Mungkin mereka berkata dalam hati “Hari gini hp masih model jadul, mahasiswa kedokteran lagi, apa kata dunia!”.
Pusing…pusing…!
Perasaan pengen pindah fakultas aja kali ya. Kalau bukan karena angan-angan dan harapan orang tuaku untuk melihatku menjadi seorang dokter maka sudah kuputuskan sejak dulu untuk masuk fakultas lain. Lama-lama disini bisa mati kaku aku ini. Kenapa sih harus ada orang kaya dan orang miskin? Kenapa enggak disamain aja semua?. Begitu beratnya beban mental yang tengah kuderita ini. Kemanakah harus kutumpahkan kepenatan yang menjejal-jejal rongga jantungku ini. Ya Allah…aku sangat mafhum, Engkau tak akan memberikan cobaan melebihi kadar kesanggupanku.
--==oo0)(0oo==--
“…penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil dan disebut spirochaeta ini, dengan flagellanya dapat menembus kulit atau mukosa manusia…” dr. Juliana menjelaskan tentang gejala klinis dan pengobatan penyakit leptospirosis dengan berapi-api.
Aku tak mampu mendengarkan penjelasan dari dokter lulusan Jerman itu. Entah apa saja yang berseliweran di dalam pikiranku. Mataku hanya menangkap gerak bibir dokter Juliana keatas dan kebawah. Hingga selesai jam perkuliahan aku masih duduk dirungan kelas menatap dinding dengan tatapan hampa. Uang beasiswa belum keluar-keluar, mana persediaan buat makan nyaris habis, uang bayar listrik belum dilunasi, ditambah lagi di kampus dimintai uang terus oleh ketua komting, katanya buat baju praktek, bet nama, uang buku. Huh… rasanya aku ingin sekali berteriak sekuat-kuatnya
‘Hidup ini tidak adil…! Lebih baik aku mati!’.
Aku berjalan gontai menuju mushalla As-syifa. Sepertinya hanya dimushalla itu seluruh kepenatan ini bisa terobati. Dengan basuhan bulir-bulir air wudhu itu menenangkan jiwaku yang kini tengah gundahgulana. Dengan sujud diwaktu dhuha itu dapat mengembalikan kesegaran diwajah yang sebelumnya berkerut dan berlipat-lipat.
“De, lako mike ko? Pema aku lebe!”1 aku menoleh ke sumber suara itu. Si Waly temanku sekampung itu berlari kearahku. Ia tak peduli orang terheran-heran mendengar bahasanya. Bahasa planet mana pula itu. Batin mereka.
“Lako mi mushalla. kona mike mang?”2 tanyaku balik. Mukanya terlihat kusut. Walaupun sebenarnya aku ini adalah asli suku Sunda, tapi aku sudah mahir berbahasa Pak-pak. Darah suku Pak pak telah menyatu dengan darahku. Sudah sepuluh tahun aku tinggal bersama-sama dengan suku Pak pak. Suku yang mendiami pulau Sumatera-Aceh. Tepatnya perbatasan antara Aceh dengan Medan. Daerah itu baru 2 tahun ini dimekarkan menjadi Kota Subulussalam.
“Aku ikut kamu ke mushalla. Kune pe kabar masalah beasiswa ta da? Enggo mang turun po oda?”3
“Aku pe belum tau kabarnya. Do’ panitia beasiswa, kepeng kita itu masih diusahakan di bagian keuangan di kantor gubernur”
“Huh! mereka itu kerjanya lambat sekali ya. Apa tidak mereka pikirkan kita ini sudah ndersa4 seperti ini ya” Waly memancarkan ekspresi kekesalannya.
Dalam hati aku membenarkan perkataan Waly. Bagaimanapun kerja mereka memang sangat-sangat lambat. Sudah beberapa bulan ini beasiswa tidak juga disalurkan. Apa mereka ingin menilep uang beasiswa juga. Ada sekitar lebih dari seratus orang yang belum juga mendapatkan beasiswa dari pemda Aceh. Ya Allah… semoga mereka tidak seburuk yang kami sangkakan.
Saat aku dan Waly hendak memasuki pintu pagar mushalla As-Syifa, ada yang berseru ke arah kami
“Hei… ho jak!?”5 pemuda tidak tinggi dan agak gemuk berseru setelah menutup pintu mobilnya. Dia menggunakan bahasa Aceh. Kami tak mengerti dan saling berpandangan.
“Apa nya yang kau bilang? gak ngerti aku!” kata Waly dengan loghat pak-paknya yang kasar.
“Mau kemana kalian berdua?”
“Mau kemushalla lah, kau pikir mau ke supermarket…” si Waly memang bawaannya kesal terus.
“Ya bagus-bagus, sekalian ikut kajian ya. Untuk apa kalian terus mikirin dunia. Uang aja terus yang ada diotak. Perut aja terus yang dipikir. Pikirin tu akhirat, mau pilih masuk sorga apa neraka?...”
Waly sudah nampak merah telinganya. Ia tersinggung bukan kepalang. Cara mengajaknya itu terlalu ceplas-ceplos. Sepertinya pemuda itu anggota pengajian yang baru dan lagi semangat-semangatnya ngajak orang. Kutenangkan diri Waly. Ia mengerti dan membiarkan pemuda itu terus berkutbah.
Benar saja, setelah aku selesai shalat dhuha. Mushalla penuh dengan manusia-manusia ramah berjanggut. Agaknya merekalah yang sering dipanggil dengan sebutan anak mushalla atau LDK. Beberapa orang menyalamiku dan juga Waly dengan seulas senyuman hangat. Aku dan Waly duduk mendengarkan ceramah dari seorang ustad muda yang fasih membacakan ayat-ayat Alqur’an.
“…manusia itu dalam hal urusan dunia selalu saja memandang ke atas. Melihat orang berlebih harta, punya mobil, hp keren terbaru. dia merasa kurang percaya diri dan minder seraya berkata Allah itu tidak adil terhadap dirinya. Tapi coba masalah akhirat, dia selalu memandang kebawah. Tolok ukur ibadahnya adalah orang-orang dibawahnya. Padahal dia lupa kalau Allah telah menjanjikan rezeki dari arah yang tidak terduga-duga kalau dia beriman…”
Deg…
Satu tetes bening mendarat di ambal mesjid. Ampuni aku ya Allah. Mungkin saja Engkau tidak menurunkan beasiswa itu karna aku tidak pernah ikhlas menerima keadaan. Ma’afkan aku juga ya Allah. Aku selalu mengutuki keadilan-Mu. Ustad muda itu begitu bagus menyampaikan materi tentang sabar. Aku bertekad untuk ikut kajian setiap minggunya di mushalla As-Syifa bersama dengan orang-orang ramah berjanggut tipis.
--==oo0)(0oo==--
“Eh, De. Liat tukang parkir itu?” Waly menunjuk kearah tukang parkir kedokteran.
“Lho, emang aya naon sih akang…?” tanyaku menggunakan bahasa Sunda. Dahinya mengkerut. Enggak ngerti.
“Lawak na bahasami De, bage bahasa tah planet dike”6
“Ya bahasa planet bumi lah, ha ha ha”
“De, coba kamu itung berapa keuntungan Pak Batik itu dari usahanya jaga parkir” aku diam saja. Kurang kerjaan rasanya kalau ngitungin penghasilan orang lain.
“Setiap orang yang parkir bayar 500 rupiah sekali pulang. Coba kalau ada setengahnya saja mahasiswa kedokteran ini hadir dalam satu hari. Mahasiswa kedokteran jumlahnya lebih dari 1000. kalau 500 orang saja datang dalam satu hari, dikali 500 rupiah hasilnya 250.000 rupiah bro…! itu Cuma satu hari. Coba kalau dikali 6 hari, hasilnya 1.500.000 rupiah bro. Belum lagi ada mahasiswa yang pulang pergi karna jadwal kuliah yang nggak berurut. Ini penghasilan yang luar biasa sekali, fantastik De!. Ah… kita saja yang tak pernah mau berfikir bahwa rezeki yang besar itu ada pada tukang parkir”
“Dasar kamu ini Waly, seperti ahli ekonomi saja. Kamu tidak sedang mengajak aku untuk jadi tukang parkir kan?”
Tapi aku berpikir benar juga yang dikatakan si Waly. Penghasilan satujuta limaratus itu cuma dalam satu minggu saja, kalau satu bulan sudah enam juta. Gila…! aku baru tersadar. Berarti ada benarnya gosip teman-temanku bahwa anaknya Pak Batik ada yang kuliah ke Mesir.
Para tukang parkir itu tak ada yang merasa minder. Mereka memang tebal muka dalam menghadapi berbagai tipikal orang. Sedangkan aku. Sebagai mahasiswa kedokteran yang notabene berpendidikan tinggi tak mampu mengusir rasa minder yang akut. Oh… semangat tukang parkir ini telah mengingatkan aku untuk segera menghilangkan rasa minder yang menjejal-jejal otakku.
Tulilit…tulilit…tulilit…
Ah, biar saja dia berdering. Kini suara hp itu kok terasa indah mendayu ditelingaku ya. Aku tak perduli orang melihat kearahku.
“Hei…De, telfon itu diangkatlah!”
“Oh iya aku lupa, lagi menikmati nadanya” si Waly bingung. Nada yang mana?. Kuambil hp dari saku celanaku. Ku angkat telefon dari nomor asing itu. Aku terkejut.
“Ly… dengar nih sini, cepat! dari panitia beasiswa” aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Kubuat loundspeaker. Allahuakbar…! Kami berdua nyaris bertakbir mengguncang jagat. Beasiswa telah keluar dan akan dikirim ke nomor rekening kami.
Ustad muda itu benar. Dalam urusan dunia jangan selalu memandang keatas. Bersabar dan buang rasa minder. Allah akan menurunkan rezeki dari arah yang tidak kita duga-duga.
--==oo0)(0oo==--
5 oktober 2009
Buat Temanku Lukman Waly:
Kapan ya beasiswa kita disalurkan?
1. “Hei…De, mau pergi kemana? Tunggu aku dulu!”
2. “Mau ke mushalla, kamu mau kemana juga?
3. “Gimana kabar beasiswa kita? Udah turun belum?
4. Sekarat
5. “Hei…mau kemana?”
6. “Lucu kali bahasa kamu De, bahasa planet mana si itu?