Jumat, 26 Februari 2010

BUKAN LELAKI SYURGA



Kau bilang dimataku ada kebun

Kutanya, kebun apa?

Syurga

Kupikir pun begitu

Tapi, ada bayangan hitam

Yang meloncat dari satu titik darah ke titik lain

Membuat telaga hitam di genangan merahnya darah

Bayangan hitam itu meloncat lagi

Sampai ke titik orgasme

Berakhir sudah

Dimataku tak ada syurga...

Kau tertipu

Saat tabir itu tersingkap

Kebun itu bagai sisa serpihan gelombang nista

Wangi kesturi adalah nanah busuk yang terkutuk

Sungai susu dan madu adalah

Lautan hitam dan membeku

Itu bukan syurga, kan?

Aku bukanlah lelaki syurga

BUKAN LELAKI SYURGA


Kau bilang dimataku ada kebun

Kutanya, kebun apa?

Syurga

Kupikir pun begitu

Tapi, ada bayangan hitam

Yang meloncat dari satu titik darah ke titik lain

Membuat telaga hitam di genangan merahnya darah

Bayangan hitam itu meloncat lagi

Sampai ke titik orgasme

Berakhir sudah

Dimataku tak ada syurga...

Kau tertipu

Saat tabir itu tersingkap

Kebun itu bagai sisa serpihan gelombang nista

Wangi kesturi adalah nanah busuk yang terkutuk

Sungai susu dan madu adalah

Lautan hitam dan membeku

Itu bukan syurga, kan?

Aku bukanlah lelaki syurga

Rabu, 04 November 2009

Ketika Rasa Rendah Diri Terlalu Berlebihan

MINDER YANG AKUT

Penulis: Dede Habibillah

Aku tergugu di sudut mushalla As-Syifa. Mengurai airmata dihadapan sang pencipta airmata. Aku selalu diteror rasa malu dan minder yang akut. Kini hatiku sunyi, gelap dan terluka. Tak ada yang salah. Tiada sesiapa yang bisa kujadikan kambing hitam sebagai dalang si pembuat masalah.
--==oo0)(0oo==--

Aneh, beberapa tahun silam aku bukanlah yang seperti ini. Dulu, aku adalah orang yang paling PD. Tak pernah perduli orang mau bilang apa. Apa yang menjadi tekad dan keyakinanku maka akan kulakukan dengan azzam yang tinggi. Kemanakah perginya rasa percaya diriku?
Aku berjalan menuju kampus dengan pikiran yang silang sengkarut. Diatas, awan gemawan berarak-arakan tak lagi terasa indah. Pandangan ini tak mampu mendongak keatas. Masalah yang begitu berat membuat kepala ini sulit mendongak. Sebaliknya, mata dan kepala ini memaku bumi hingga ke inti yang terdalam.
“Jadi mahasiswa kedokteran itu penampilannya mesti meyakinkan, jangan kayak mahasiswa kehutanan” kata-kata itu terngiang ditelingaku. Bang yahya mengomentari penampilanku suatu kali.
“Maksud bang Yahya penampilanku ini tidak rapi ya?”
“Aku enggak bilang begitu kan?” selahnya.
Aku tak mau mendesak bang Yahya untuk mengakui penampilanku yang buruk. Tapi muka ini terasa panas mendengarnya. Harus bagaimana lagi kubuat diri ini. Baju kemejaku hanya ada tiga buah. Itupun sudah terlalu lama kugunakan. Ada yang di ujung lengannya sobek seperti gigitan tikus, kemeja inilah yang sekarang kugunakan.
Aku bersyukur masih ada yang mau mengingatkan. Kuucapkan terimakasih pada Bang Yahya dan berlalu meninggalkannya.
Teringat cerita temanku yang sama-sama mahasiswa baru di fakultas kedokteran. Beberapa hari yang lalu, dia kena semprot Kepala Bagian Kemahasiswaan saat mengurus pengembalian surat-surat pendaftaran. Ia disindir-sindir sebagai mahasiswa kehutanan seperti aku. Terang aja sekembalinya ia dari ruangan itu ia mencak-mencak nggak karuan.
Aku dan temanku itu adalah manusia yang bernasib sama. Sama-sama satu kampung. Sama-sama boleh dikata kurang mampu. Sama-sama masuk fakultas kedokteran di universitas yang sama melalui jalur beasiswa. Disatu sisi kami merasa bersyukur bisa masuk fakultas yang paling diminati diseluruh tanah air ini. Terbukti saat tes ujian masuk kemarin fakultas kedokteranlah yang menduduki rangking pertama terbanyak pesertanya. Di sisi lain kami berdua adalah mahasiswa kedokteran yang kampungan, tak pandai bergaul dan selalu tersiksa mengikuti gaya hidup mereka. Lengkap betullah segala kekurangan kami.
Suatu hari di ruangan kuliah
Tulilit…tulilit…tulilit…
Alamak! aku lupa mematikan nada dering hpku. Orang-orang melihatku semua. Mungkin mereka berkata dalam hati “Hari gini hp masih model jadul, mahasiswa kedokteran lagi, apa kata dunia!”.
Pusing…pusing…!
Perasaan pengen pindah fakultas aja kali ya. Kalau bukan karena angan-angan dan harapan orang tuaku untuk melihatku menjadi seorang dokter maka sudah kuputuskan sejak dulu untuk masuk fakultas lain. Lama-lama disini bisa mati kaku aku ini. Kenapa sih harus ada orang kaya dan orang miskin? Kenapa enggak disamain aja semua?. Begitu beratnya beban mental yang tengah kuderita ini. Kemanakah harus kutumpahkan kepenatan yang menjejal-jejal rongga jantungku ini. Ya Allah…aku sangat mafhum, Engkau tak akan memberikan cobaan melebihi kadar kesanggupanku.
--==oo0)(0oo==--

“…penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil dan disebut spirochaeta ini, dengan flagellanya dapat menembus kulit atau mukosa manusia…” dr. Juliana menjelaskan tentang gejala klinis dan pengobatan penyakit leptospirosis dengan berapi-api.
Aku tak mampu mendengarkan penjelasan dari dokter lulusan Jerman itu. Entah apa saja yang berseliweran di dalam pikiranku. Mataku hanya menangkap gerak bibir dokter Juliana keatas dan kebawah. Hingga selesai jam perkuliahan aku masih duduk dirungan kelas menatap dinding dengan tatapan hampa. Uang beasiswa belum keluar-keluar, mana persediaan buat makan nyaris habis, uang bayar listrik belum dilunasi, ditambah lagi di kampus dimintai uang terus oleh ketua komting, katanya buat baju praktek, bet nama, uang buku. Huh… rasanya aku ingin sekali berteriak sekuat-kuatnya
‘Hidup ini tidak adil…! Lebih baik aku mati!’.
Aku berjalan gontai menuju mushalla As-syifa. Sepertinya hanya dimushalla itu seluruh kepenatan ini bisa terobati. Dengan basuhan bulir-bulir air wudhu itu menenangkan jiwaku yang kini tengah gundahgulana. Dengan sujud diwaktu dhuha itu dapat mengembalikan kesegaran diwajah yang sebelumnya berkerut dan berlipat-lipat.
“De, lako mike ko? Pema aku lebe!”1 aku menoleh ke sumber suara itu. Si Waly temanku sekampung itu berlari kearahku. Ia tak peduli orang terheran-heran mendengar bahasanya. Bahasa planet mana pula itu. Batin mereka.
“Lako mi mushalla. kona mike mang?”2 tanyaku balik. Mukanya terlihat kusut. Walaupun sebenarnya aku ini adalah asli suku Sunda, tapi aku sudah mahir berbahasa Pak-pak. Darah suku Pak pak telah menyatu dengan darahku. Sudah sepuluh tahun aku tinggal bersama-sama dengan suku Pak pak. Suku yang mendiami pulau Sumatera-Aceh. Tepatnya perbatasan antara Aceh dengan Medan. Daerah itu baru 2 tahun ini dimekarkan menjadi Kota Subulussalam.
“Aku ikut kamu ke mushalla. Kune pe kabar masalah beasiswa ta da? Enggo mang turun po oda?”3
“Aku pe belum tau kabarnya. Do’ panitia beasiswa, kepeng kita itu masih diusahakan di bagian keuangan di kantor gubernur”
“Huh! mereka itu kerjanya lambat sekali ya. Apa tidak mereka pikirkan kita ini sudah ndersa4 seperti ini ya” Waly memancarkan ekspresi kekesalannya.
Dalam hati aku membenarkan perkataan Waly. Bagaimanapun kerja mereka memang sangat-sangat lambat. Sudah beberapa bulan ini beasiswa tidak juga disalurkan. Apa mereka ingin menilep uang beasiswa juga. Ada sekitar lebih dari seratus orang yang belum juga mendapatkan beasiswa dari pemda Aceh. Ya Allah… semoga mereka tidak seburuk yang kami sangkakan.
Saat aku dan Waly hendak memasuki pintu pagar mushalla As-Syifa, ada yang berseru ke arah kami
“Hei… ho jak!?”5 pemuda tidak tinggi dan agak gemuk berseru setelah menutup pintu mobilnya. Dia menggunakan bahasa Aceh. Kami tak mengerti dan saling berpandangan.
“Apa nya yang kau bilang? gak ngerti aku!” kata Waly dengan loghat pak-paknya yang kasar.
“Mau kemana kalian berdua?”
“Mau kemushalla lah, kau pikir mau ke supermarket…” si Waly memang bawaannya kesal terus.
“Ya bagus-bagus, sekalian ikut kajian ya. Untuk apa kalian terus mikirin dunia. Uang aja terus yang ada diotak. Perut aja terus yang dipikir. Pikirin tu akhirat, mau pilih masuk sorga apa neraka?...”
Waly sudah nampak merah telinganya. Ia tersinggung bukan kepalang. Cara mengajaknya itu terlalu ceplas-ceplos. Sepertinya pemuda itu anggota pengajian yang baru dan lagi semangat-semangatnya ngajak orang. Kutenangkan diri Waly. Ia mengerti dan membiarkan pemuda itu terus berkutbah.
Benar saja, setelah aku selesai shalat dhuha. Mushalla penuh dengan manusia-manusia ramah berjanggut. Agaknya merekalah yang sering dipanggil dengan sebutan anak mushalla atau LDK. Beberapa orang menyalamiku dan juga Waly dengan seulas senyuman hangat. Aku dan Waly duduk mendengarkan ceramah dari seorang ustad muda yang fasih membacakan ayat-ayat Alqur’an.
“…manusia itu dalam hal urusan dunia selalu saja memandang ke atas. Melihat orang berlebih harta, punya mobil, hp keren terbaru. dia merasa kurang percaya diri dan minder seraya berkata Allah itu tidak adil terhadap dirinya. Tapi coba masalah akhirat, dia selalu memandang kebawah. Tolok ukur ibadahnya adalah orang-orang dibawahnya. Padahal dia lupa kalau Allah telah menjanjikan rezeki dari arah yang tidak terduga-duga kalau dia beriman…”
Deg…
Satu tetes bening mendarat di ambal mesjid. Ampuni aku ya Allah. Mungkin saja Engkau tidak menurunkan beasiswa itu karna aku tidak pernah ikhlas menerima keadaan. Ma’afkan aku juga ya Allah. Aku selalu mengutuki keadilan-Mu. Ustad muda itu begitu bagus menyampaikan materi tentang sabar. Aku bertekad untuk ikut kajian setiap minggunya di mushalla As-Syifa bersama dengan orang-orang ramah berjanggut tipis.
--==oo0)(0oo==--

“Eh, De. Liat tukang parkir itu?” Waly menunjuk kearah tukang parkir kedokteran.
“Lho, emang aya naon sih akang…?” tanyaku menggunakan bahasa Sunda. Dahinya mengkerut. Enggak ngerti.
“Lawak na bahasami De, bage bahasa tah planet dike”6
“Ya bahasa planet bumi lah, ha ha ha”
“De, coba kamu itung berapa keuntungan Pak Batik itu dari usahanya jaga parkir” aku diam saja. Kurang kerjaan rasanya kalau ngitungin penghasilan orang lain.
“Setiap orang yang parkir bayar 500 rupiah sekali pulang. Coba kalau ada setengahnya saja mahasiswa kedokteran ini hadir dalam satu hari. Mahasiswa kedokteran jumlahnya lebih dari 1000. kalau 500 orang saja datang dalam satu hari, dikali 500 rupiah hasilnya 250.000 rupiah bro…! itu Cuma satu hari. Coba kalau dikali 6 hari, hasilnya 1.500.000 rupiah bro. Belum lagi ada mahasiswa yang pulang pergi karna jadwal kuliah yang nggak berurut. Ini penghasilan yang luar biasa sekali, fantastik De!. Ah… kita saja yang tak pernah mau berfikir bahwa rezeki yang besar itu ada pada tukang parkir”
“Dasar kamu ini Waly, seperti ahli ekonomi saja. Kamu tidak sedang mengajak aku untuk jadi tukang parkir kan?”
Tapi aku berpikir benar juga yang dikatakan si Waly. Penghasilan satujuta limaratus itu cuma dalam satu minggu saja, kalau satu bulan sudah enam juta. Gila…! aku baru tersadar. Berarti ada benarnya gosip teman-temanku bahwa anaknya Pak Batik ada yang kuliah ke Mesir.
Para tukang parkir itu tak ada yang merasa minder. Mereka memang tebal muka dalam menghadapi berbagai tipikal orang. Sedangkan aku. Sebagai mahasiswa kedokteran yang notabene berpendidikan tinggi tak mampu mengusir rasa minder yang akut. Oh… semangat tukang parkir ini telah mengingatkan aku untuk segera menghilangkan rasa minder yang menjejal-jejal otakku.
Tulilit…tulilit…tulilit…
Ah, biar saja dia berdering. Kini suara hp itu kok terasa indah mendayu ditelingaku ya. Aku tak perduli orang melihat kearahku.
“Hei…De, telfon itu diangkatlah!”
“Oh iya aku lupa, lagi menikmati nadanya” si Waly bingung. Nada yang mana?. Kuambil hp dari saku celanaku. Ku angkat telefon dari nomor asing itu. Aku terkejut.
“Ly… dengar nih sini, cepat! dari panitia beasiswa” aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Kubuat loundspeaker. Allahuakbar…! Kami berdua nyaris bertakbir mengguncang jagat. Beasiswa telah keluar dan akan dikirim ke nomor rekening kami.
Ustad muda itu benar. Dalam urusan dunia jangan selalu memandang keatas. Bersabar dan buang rasa minder. Allah akan menurunkan rezeki dari arah yang tidak kita duga-duga.
--==oo0)(0oo==--

5 oktober 2009
Buat Temanku Lukman Waly:
Kapan ya beasiswa kita disalurkan?

1. “Hei…De, mau pergi kemana? Tunggu aku dulu!”
2. “Mau ke mushalla, kamu mau kemana juga?
3. “Gimana kabar beasiswa kita? Udah turun belum?
4. Sekarat
5. “Hei…mau kemana?”
6. “Lucu kali bahasa kamu De, bahasa planet mana si itu?

Sabtu, 31 Oktober 2009

RAHASIA CINTA

Saat saat kelas 3 MAN,
28 januari 2009 M
1 Muharram 1430 H

Begitu gembiranya kawan. Saat-saat terindah dalam hidup adalah saat-saat SMA. Hai kawan! Barangkali kita pernah menyukai gadis yang sama. Tapi berbeda orang berbeda pulalah cara mengatasi getaran-getaran halus yang menyusup direlung hati. Sebagian kita ada yang langsung mengungkap isi hatinya, meski penolakan demi penolakan yang diterimanya. Namun perjuangan tidak sampai disitu. Berbekal semangat dan prinsip ‘cinta ditolak usaha makin bergolak” tiada henti mencari jati diri dan cinta.
Ada juga diantara kita yang menyimpan rasa yang amat dalam itu didalam hati. Hinga cinta itu berjamur, bukanya tumbuh dan berbunga. Akibatnya letupan cinta itu timbul melalui jerawat lantas meledak bersama penyesalan tiada terkira. Ia memendam perasaannya sendiri.
Aku pun demikian. Aku adalah orang yang paling tidak bias mengungkapkan perasaanku pada seseorang yang kucintai. Bukan karena aku tidak berani, tapi inni akhafullah. Ya, aku amat takut kepada Allah.
Kubuka kartu padamu kawan. Sejak aku pertama jatuh cinta sampai sekarang dan sampai kapanpun takkan pernah bias kulupakan gadis itu. Senyumnya, pesonanya, keanggunan wajahnya, pancaran aura kesejukan dari dalam jiwanya dan keindahan bola mata yang diciptakan untuk membuat cemburu para bidadari. Diam-diam aku berharap meski ia tidak berjodoh denganku dan menjadi belahan hatiku kelak, semoga saja ia bias menjadi wanita yang cantik, pintar, sholehah dan berjiwa malaikat lantas melahirkan anak-anak yang setipe dengannya.
Ya rabb, jadikan aku cahaya bak mutiara, jadikan dari mataku cahaya, dari telingaku cahaya dan dari lisanku cahaya, jadikanlah seluruh tubuhku adalah cahaya. Jagalah aku agar tetap istiqamah menjaga jiwa dan ragaku dari kebiasaan tercela. Berilah kabar gembira kepadaku, pada remaja yang berusaha untuk berhijab (menahan diri) dari berdekatan dan bersentuhan dengan lawan jenis tentang syurga abadi yang indah dan para bidadari-bidadarinya.

Keindahan Alam

Dengarlah kicau burung-burung bernyanyi
Menyambut mentari pagi indah dan berseri
Sebagai tanda puji pada yang kuasa
Atas nikmat alam raya untuk kita semua
(Snada)


Dua waktu yang sangat indah diberikan Allah padaku. Pada saat matahari terbit dan matahari terbenam. Saat matahari terbit, semua makhluk di permukaan bumi bersuka ria. Pemandangan yang menyentuh hati dan mnyuntikkan spirit tiada terkira. Di ufuk timur matahari terbit dengan sinar emasnya. Sinar itu menyisir setiap pelosok dan ruang sepi. Memberi warna-warna yang indah di lensa mataku.
Saat itu daun kelapa mulai melambai lembut. Kabut masih menyisa sedikit di ujung pandangan. Tupai si pemakan buah sangat girang melompat kesana melompat kesini mengikuti irama siulan burung-burung emprit dan sirit uncuing.
Diwaktu alam mulai gelap sedikit. Matahari meninggalkan singgasananya. Tapi justru saat inilah panorama paling indah itu muncul. Sinar warna merahnya melukis langit yang dipenuhi awan. Bias sinarnya bagaikan cahaya penuh cinta sang pencipta.
Saat itu warna dedaunan tak lagi hijau, tapi berwarna gelap. Sebab cahaya matahari tak dapat menyisir bumi. Apalagi jika kita melihat warna matahari terbenam itu di pinggir pantai ddan dermaga. Subhanallah… allahuakbar… Tiada kalimat yang indah selain memuji Engkau ya Allah. Aku semakin mencintaimu.
Kedamaian menyelinap di ruang jiwaku. Ketenangan mendekap palung hatiku. Ingin rasanya berlama-lama disuasana seperti ini bersama keluarga dan sanak saudara.
Tapi aku sadar hidupku tidak hanya melulu untuk menikmati alam saja. Aku harus bergerak mambela dan mengayomi masyarakat terbelakang. Seorang aktivis bukanlah orang yang senang berleha dengan keindahan duniawi. Tapi keindahan dunia merupakan unsur terpenting dalam hidup ini mencapai alam abadi, yakni akhirat.

BUTIRAN CINTA IBU

Apa yang sangat mengganggu pikiranmu? Hal apakah yang membuat kerutan didahimu semakin bertambah? Akukah yang membuat daftar masalahmu semakin bertambah?.
Rasa kasihmu tak bias dinilai oleh kerlipan intan mutiara. Butiran cintamu setinggi langit membumbung dan angkasa membentang. Sedalam samudra dan seluas semesta terhampar. Kulihat dimatamu ada ketakutan, ketakutan yang berlipat-lipat. Apakah kau takut kehilangan kami semua anak-anakmu? ataukah kau takut kehilangan diriku? Ah, aku terlalu membesarkan diri. Apalah diriku diriku ini dimatamu. Mungkin aku lebihbanyak menyusahkan dari pada menghilangkan bebanmu. Apakah kau berat untuk berhenti memikirkan kami semua? Oh sesungguhnya memang engkau adalah wanita yang mulia yang tak pernah menyelesaikan masalah anak-anaknya bahkan hingga anak-anaknya telah berumahtangga.
Kudengar kemarin lalu kau terjatuh dan tak bias menggerakkan tubuhmu. Rasanya hati ini sudah terputus dan menggelinding layaknya buah kelapa yang jatuh dari pohonnya tatkala kudengar kabar bahwa ibu menderita lumpuh secara tiba-tiba itu. Katanya pula ibu sempat pingsan tak sadarkan diri. Aku sedih dan terpukul! Sangat terpukul bu! Seharusnya saat itu aku berada disampingmu, membopongmu dan menyuapkan nasi sesuap demi sesuap seperti yang kau lakukan dahulu padaku. Ibu
merasa kesepian, disaat hari-hari tua menjelang ibu dan bapak ditinggalkan oleh-anak-anaknya. Aku kadang bingung berfikir ibu manakah yang lebih utama antara kewajiban menuntut ilmu dengan kewajiban mengurus kedua orang tua yang dalam keadaan sakit. Jika aku diperbolehkan memilih antara mengejar cita-cita dengan berada disampingmu saat kau butuh. Maka aku lebihmemilih dirimu ibu. Seperti juga saat kau memilih bertubuh gemuk daripada bertubuh langsing karena mengandungku. Kau begitu banyak memberiku nasihat hikmah yang pada hari ini aku baru menyadaribetapa kata-kata itu menuntunku menapaki hidup dijalan yang panjang dan berliku ini.
Aku tau ibu sangat mengharapkan kita berkumpul kembali sepeti dulu. Tapi kini aku beserta kakak dan abang-abangku mesti menyelesaikan kuliah dulu bu. Ibu juga kan yang menyuruh aku untuk sekolah setinggi-tingginya agar lengakp kebahagian ibu dan bapak. Ya kan bu…?
Bulan purnama kali ini tak terasa indah dimataku. Bagiku kesembuhan ibu adalah lebih indah dari pada panorama itu. Senyuman yang tersungging dibibirmu adalah lebih indah dari pada senyuman bidadari. Masakan yang dinasak oleh ibu adalah lebih nikmat dan lezat dari pada masakan sang maestro koki.
Butiran air mata cinta ini tak sebanding dengan secuil doamu ibu.
Semoga kondisimu semakin membaik. Disini aku tidak henti-hentinya mendoakan keselamatan bagimu. Semoa doa manusia kerdil dan hina sepertiku ini bias sedikit terkabul oleh Allah SWT.
Aku tau ibu takkan bisa membaca kelimat demi kalimat cinta ini. Jangankan untuk berselancar didunia maya sedang mendengar computer saja ibu pasti bingung. Ibu hanya tamatan Sekolah Rakyat. Sekedar bias baca dan berhitung (tapi kalau menghitung uang dan belanjaan, ibulah masternya). Ibu hanyalah wanita biasa-biasa dan dari keturunan biasa saja. Hanya dimatakulah ibu serba luar biasa. Ibu pahlawan tanpa tanding. Segala penghargaan kusematkan didada ibu.
Ingin kusampaikan sebuah surat untukmu mu bu. Tapi biarlah alam yang membaca dan menyampaikannya untukmu.

Senin, 20 juli 2009. Pukul 09.30
“SURAT UNTUK IBU”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
Ba’da Tahmid,

Kusampaikan surat ini pada alam. Pada angin dan hujan. Pada gunung-gunung dan luasnya padang sahara. Pada birunya langit tertinggi. Pada dinding-dinding kokoh dan jalanan kota. Pada gelombang laut dan burung camarnya. Pada sawah ladang beserta orang-orangan sawahnya. Pada rimbanya hutan di bukit dan lembah.
Ibu, aku rindu tutur kata yang penuh makna mengalir dari bibir jiwamu. Aku tak penah lupa dan takkan pernah bisa lupa saat kau memotong 1 butir telur dadar menjadi 5 bagian, sebab kau tak ingin diantara kami anak-anakmu tak ada yang makan. Meski kami hanya mendapat seperlima bagian telur itu, namun kami memakannya dengan diliput rasa bahagia.
Bila kuingat saat-saat itu ibu, aku ingin menangis dan tak jarang air mata haru, sedih, rindu dan bahagia menetes hangat dipipiku.
Ibu, alangkah bahagianya dulu. Aku sering memegang tangan sutramu lantas kukecup dengan perasaan yang sulit terlukiskan oleh pena ini. Itu kulakukan setiap hari saat pergi kesekolah mulai sejak SD sampai SMA. Namun kini aku hanya bisa membayangkan wajahmu. Cukup hanya dengan melihat fotomu aku merasa telah berada dipelukan hangatmu.
Biarlah awan dipagi ini menemaniku mencurahkan rasa yang terus membuncah. Biarlah penaku ini bergoyang kian kemari diatas kertas untuk melukiskan kerinduan yang sulit kupendam di relung jiwa. Ingin rasanya kuangkat 7 keajaiban dunia lantas ku persembahkan dipangkuanmu bu.akan kubawa engkau menjelajahi seluruh pelosok negri ini melihat bermacam ragam keindahan alam, suku, budaya dan bangsa.
Saksikanlah! Suatu saat nanti saat aku kembali, aku akan membuat matamu yang sayu dan keriput itu menjadi cerah dan berbinar, bagai orang yang menemukan kembali sekantong emas yang hilang dari tangannya. Do’amu yang tiada letih kau panjatkan siang dan malam telah mengalir disepanjang aliran darahku, merasuk kedalam sukmaku dan menjadi spirit yang takkan pernah habis.
Ibu, aku tau kau tak faham dengan bahasa jiwaku ini. Aku akan nyatakan rasa cinta yang sangat ini melalui bahasa tubuh. Sungguh tak baik rasanya jika beban dan kesulitan kuliahku kutimpakan padamu juga bu. Sebab kau tak faham dengan itu. Kau hanya ingin mendengar bahwa aku sukses dan berhasil dan mengharumkan namamu saat kembali nanti.
Terima kasih yang setinggi dan sedalam-ddalamnya untukmu ibu. Aku selalu berdo’a agar Allah SWT. Menempatkanmu ditempat yang tertinggi disyurganya.
Atas nama cinta, cita-cita dan impian besarmu bu, aku akan berusaha keras untuk mewujudkannhya.

Dari Anak Bungsu yang selalu mencintaimu,
Dede Habibillah.

Senin, 19 Oktober 2009

Birunya Langit Cintaku

Awan beriringan melangkah pasti. Udara pagi yang dingin seolah menusuk-nusuk pori-pori tubuhku. Nyanyian burung bagai nyanyian cinta yang menyusup dialiran darahku.
Teringat kembali dipagi yang cerah ini kisah manis diawal kita bertemu Cinta. Masih ingatkah kau Cinta, saat pertama kali kau menyapa jiwaku. Ya, saat itu kita masih SMP. Kau datang dengan pesona 7 bidadari, tak pernah kulihat dialam nyata wanita yang sesempurna dirimu. Pesonamu jauh mengalahkan pesona ratu kecantikan sejagat, bahkan kebeningan wajahmu memadamkan bara api keabadian.
Saat itu aku tersipu malu akibat ulah temanmu.
“De, kamu suka ya sama cinta? Hayo ngaku!” bah, merah meronalah pipiku saat itu. Tapi kau tau jawabanku saat itu. Konyol! Benar-benar konyol…
“Siapa bilang, e em… enggak kok. Mana pula aku suka sama dia, enggak”.
Dasar anak SMP. Aku malu untuk mengakui isi hatiku Cinta. Siapa pula orangnya yang tidak suka padamu.
Rasa cinta padamu hardir begitu saja sejak pada pandangan pertama. Hingga sampai kini cinta itu tak pernah pudar. Walaupun kini kau jauh dimata, tapi cintaku padamu bagai batu karang yang tak pernah luntur disaput gelombang. Semoga kisah cinta ini tetap berjalan hingga benar-benar kelak kudapati jodoh terbaik yang diberikan Allah padaku, yaitu dirimu.
Kadang aku harus kesulitan untuk menutupi letupan-letupan cinta. Bagiku cinta pertama itu takkan pernah terlupakan. Aku yakin, meski cinta pertamaku tak sedahsyat kisah cinta Laila dan Qais pada ‘laila majnun’. Tapi keyakinanku telah terpatri direlung hati bahwa cintaku akan mengubah wajah peradaban dunia.

~~ooOO00OOoo~~

“Cinta,
Kau selembut sutra,
Wajahmu sebening salju,
Tatapan matamu bagai batu permata biru,
Akan kubuat gunung tunduk dipelukanmu,
Akan kupersembahkan 7 samudra disinggasanu, Cinta…”

Putra, teman dekatku membuat puisi untukmu Cinta. Betapa terbakarnya hatiku saat itu. Hatiku sangat hancur berkeping-keping, terseoh-seoh kucoba mengumpuli kepingan cinta itu dengan setitik asa.
Ceritanya saat itu ada tugas bahasa Indonesia dari bu Ros untuk membuat puisi dalam rangka memenuhi tugas akhir sekolah. Semua orang membuat puisi dengan perasaan yang berbeda. Aku pun membuat puisiku dengan gembira. Darahku mendidih saat si Putra membacakan puisinya yang sangat puitis. Puisi itu hasil imajinasinya selama satu minggu. Bayangin aja coba, si Putra sampai lupa makan, lupa tidur, yang lebih parah adalah kelupaan shalat demi membuat puisi terindahnya untuk dirimu Cinta.
Aku membuat 2 buah puisi. Satu puisi berisi tentang kehidupan palestina, sedang satunya lagi berisi tentang cinta. Kira-kira begini isi puisinya dulu:

Birunya Langit Cintaku

“Permata 7 bidadari menyapa lembut rimba hatiku
Kepakan sayap sutranya membiusku
Dengan bahasa tubuhnya, memasungku
Dengan tatapan mata embunnya, menyentuh bibir hatiku
Dengan langkah kakinya, bergetar jiwaku
Dengan desah nafasnya, menawan dadaku
Cinta,
Hidup didunia bagai disyurga
Bila engkau ingin bersatu dengan
Birunya langit cintaku”

Aku merasa geli saat membaca kembali puisi yang kutulis 3 tahun lalu di selembar kertas berwarna itu. Kutimang-timang puisi mana yang harus kudeklamasikan nanti didepan bu Ros dan teman-teman. Tapi akhirnya perasaan maluku mengalahkan gejolak asmara dalam jiwa. Kupilih puisi paestina. Puisi tentang cinta kusimpan baik-baik dibawah lipatan bajuku.
“De, memangnya kamu nggak pernah jatuh cinta ya?” si Nurdin, sahabat playboy ku itu bertanya suatu kali. Dilihatnya aku tak pernah membicarakan atau mengikrarkan cinta pada seseorang.
“Siapa bilang?” tanyaku balik. Bahkan aku sedang dilanda gelombang lautan cinta.
“Kenapa kamu enggak pernah menyatakan cintamu pada seseorang. Maksudnya kenapa kamu enggak menjalin ikatan khusus dengan seorang gadis. Kulihat untuk ukuran sepertimu gadis mana yang mau menolak cintamu”
“Maksudmu pacaran gitu?” jelasku. Si Nurdin hanya mengangguk.
“Sahabat, kamu tau tidak. Rasa cinta itu bukan tidak pernah mampir di sini” kutunjuk hatiku.
“Kalau kau tau gemuruhnya terasa begitu dahsyat hingga aku khawatir tak dapat menutupi gemuruh itu” aku memperbaiki posisiku dudukku. Nurdin bagai seorang murid yang menerima petuah dari sang maha guru. Ia begitu serius mendengar ucapanku. Kubuat suaraku tidak terlalu besar dan tidak juga terlalu kecil hingga sayup-sayup teman-teman yang berada dikelas bisa mendengar ucapanku.
“Din, tidak ada yang salah dengan cinta. Itu adalah fitrah yang dianugerahkan Allah pada kita. Setiap manusia punya rasa cinta tak terkecuali aku. Cintaku pada seseorang tak pernah berpindah-pindah sepertimu…” kataku bercanda. Si Nurdin tersenyum. Aku menelan ludah. Ingin sebenarnya kukatakan pada si Nurdin bahwa gadis yang kucintai adalah gadis yang dicintainya juga dan gadis yang dicintai oleh siswa lelaki dikelas kita.
“Lalu kenapa aku tidak pernah ungkapkan rasa itu atau aku enggak pacaran? Itu karena inni akhafullah. Aku takut pada Allah Din. Aku takut cintaku padanya melebihi cintaku pada sang pemilik cinta. Aku takut kehilangan cinta abadi dari sang maha cinta yang tiada putus cintanya meski diri ini berlumuran dosa dan nista.
Prinsip cintaku berbeda dengan prinsip cinta kebanyakan orang. Aku menganggap bagi siapa saja orang yang kucintai maka aku harus menjaganya dengan tidak merusak dan memadamkan cahayanya. Pacaran adalah kegiatan merusak dan memadamkan cinta serta merusak cahaya orang yang kita cintai.. aku ingin dia yang kcintai itu mulia bagai mutiara hingga sampai saatnya nanti, saat Allah menjodohkan aku dengannya, maka barulah aku akan memadu cinta dengannya dibawah naungan rahmat dan anugerah Allah. Semesta pun bertasbih memuji kisah cinta ini. Luar biasa indah bukan?”
Aku masih membolak balik buku tetang pacaran islami. Tak sadar kulihat si nurdin sudah meneteskan airmata. Aku heran melihatnya. Ada yang menyinggungkah perkataanku tadi.
“Hei-hei bro, kamu kenapa? Ada yang salah dengan kata-kataku tadi? Jangan buat aku bingung begini dong.” Kupukul-pukul pundaknya. Tapi ia tetap terisak.
“biarkan aku menangis De. Meski sampai menangis darah namun lumpur dosa yang hampir meneggelamkanku ini takkan bisa terbalaskan. Aku sangat terharu. Selama ini sering kupermainkan orang yang kucintai. Aku memang gombal! Aku ini najis! Biadab! Jahat! Bajingan!...”
“Stop…stop…! Tidak baik melaknati diri sendiri. Semua orang pasti melakukan dosa. Orang yang mulia hanyalah orang yang bertobat setelah ia berdosa dan tidak mengulangi keburukan yang sama itu lagi. Ampunan Allah amatlah luas Din, kita bersama berusaha untuk memungut setitik keridhoannya.”
Subhanallah… maha suci Allah atas segala keagungannya. Aku tak menyangka pembicaraanku dengan si Nurdin barusan dapat menggetarkan keimanannya. Awan gemawan dilangit semakin indah terasa. Akhirnya aku melihat si Nurdin hingga sekarang menjadi pemuda yang shaleh. Bahkan aku amat cemburu dengan keuletan ibadahnya.

~~ooOO00OOoo~~

Kini aku telah meninggalkan masa remajaku menuju kepada kedewasaan. Tapi aku yakin kedewasaan bukanlah soal usia. Kedewasaan itu merupakan pilihan. Betapa banyak orang tua yang bersikap laiknya anak-anak. Betapa sering orang tua menyelesaikan masalah dengan cara kekanak-kanakan. Konsep kedewasaan adalah dimana kita mampu menata hati dan menghadapi masalah dengan senyum mengembang.
Terima kasih Cinta, kau telah memberi setetes warna di perjalan hidupku. Kau mengajarkan kedewasaan itu kepadaku. Bila suatu kelak nanti kau adalah gadis yang digariskan Allah sebagai jodohku mengarungi hidup. Dengan hati terbuka dan kegembiraan yag sangat kusambut dirimu dengan senandung syair:

Bila yang tertulis olehNya engkau yang terpilih untukku
Telah terbuka hati ini menerima cintamu
…………….
Selamat datang diseparuh nafasku
Selamat datang di pertapaan hatiku

Izinkan aku mencintaimu
Menjadi belahan didalam jiwamu
Ya Allah…
Jadikanlah ia pengantin sejati, didalam hidupku
Izinkan aku…
( Maidany : mengukir cinta dibelahan jiwa)


Kenangan semasa SMA dan SMP
Di Subulussalam
Kawan, kenangan bersamamu takkan terlupakan
Meski bulan dan bintang berwarna kelam dan bertabrakan